Kasus TBC di Indonesia Tembus 1 Juta pada 2025: Tantangan Besar Menuju Eliminasi 2030
SURABAYA--Indonesia kembali menghadapi
tantangan serius dalam penanggulangan tuberkulosis (TBC). Hingga awal Maret
2025, Kementerian Kesehatan mencatat telah mendeteksi sekitar 889.000 kasus
TBC, yang merupakan 81% dari target deteksi tahun ini sebesar 1.092.000 kasus.
Dengan estimasi total kasus mencapai 1.090.000, Indonesia tetap menempati
posisi kedua dunia dalam hal beban TBC, setelah India.
Angka penemuan kasus baru
menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022,
ditemukan 724.309 kasus, meningkat menjadi 821.200 kasus pada 2023. Peningkatan
ini mencerminkan perbaikan dalam sistem pelaporan dan deteksi dini yang terus
ditingkatkan oleh pemerintah.
Namun, TBC tetap menjadi
penyebab utama kematian akibat penyakit menular di Indonesia, dengan sekitar
134.000 kematian setiap tahunnya, atau sekitar 14 orang meninggal setiap jam.
Sebagian besar penderita berada dalam usia produktif, dan sekitar 45% di antaranya
tidak memiliki pekerjaan, menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang
signifikan.
Pemerintah Indonesia telah
meningkatkan upaya penanggulangan TBC dengan memperkuat sistem deteksi dan
pelaporan, serta mengembangkan terapi pengobatan yang lebih efektif. Pada tahun
2023, sebanyak 722.000 pasien telah memulai pengobatan, meningkat dari 635.000
pada tahun sebelumnya.
Selain itu, Indonesia berencana untuk mengadakan uji klinis beberapa vaksin TBC, termasuk vaksin dari GlaxoSmithKline, CanSino Biologics, dan BioNTech, dengan harapan dapat meluncurkan vaksin TBC pada tahun 2029.
Indonesia menargetkan
eliminasi TBC pada tahun 2030, sejalan dengan target global. Strategi yang
diterapkan meliputi peningkatan cakupan pengobatan di atas 90%, keberhasilan
pengobatan lebih dari 90%, dan terapi pencegahan TBC (TPT) untuk kontak serumah
lebih dari 80%. Dengan upaya bersama antara
pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, diharapkan Indonesia dapat
mencapai target eliminasi TBC dan mengurangi beban penyakit ini secara
signifikan
Penulis: Risyda Zakiyah Hanim