Apasih Trauma Healing Itu? Begini Penjelasan Pakar dan Bukti dari Penelitian
Trauma healing semakin sering dibicarakan,
terutama ketika seseorang menghadapi pengalaman yang mengguncang mental maupun
emosional. Namun, apa sebenarnya makna trauma healing? Apakah sekadar
“melupakan” kejadian pahit?
Apa yang Dimaksud dengan Trauma?
Trauma adalah respon emosional dan
psikologis terhadap peristiwa yang mengancam rasa aman, seperti kekerasan,
kecelakaan, bencana, pelecehan, atau kehilangan besar. Yang membedakan trauma
bukan hanya "peristiwanya", tetapi "bagaimana tubuh dan pikiran
seseorang merespons" peristiwa tersebut. Reaksi trauma dapat muncul dalam
bentuk sulit tidur, mimpi buruk, rasa takut berlebihan, sulit percaya pada
orang lain, hingga menghindari hal-hal yang memicu ingatan buruk.
Lalu, Apa Itu Trauma Healing?
Secara sederhana, trauma healing adalah
proses pemulihan yang membantu seseorang mendapatkan kembali:
- Rasa aman
- Kontrol diri dan emosi
- Kemampuan memproses kenangan traumatis
- Kehidupan yang kembali bermakna
Proses ini tidak instan dan membutuhkan pendekatan yang terstruktur. Salah satu kerangka yang paling dikenal adalah Model Tiga Tahap Pemulihan Trauma yang diperkenalkan oleh pakar psikiatri Dr. Judith Herman, yaitu:
- Membangun rasa aman dan stabilisasi
- Mengolah dan memahami kembali pengalaman traumatis
- Rekoneksi dengan kehidupan, hubungan sosial, dan identitas diri
Menurut Herman, “Pemulihan trauma tidak dapat dimulai sebelum seseorang merasa aman secara emosional maupun fisik.” Pernyataan ini menegaskan bahwa penyembuhan harus dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian.
Pendapat Para Pakar
1. Dr. Judith Herman — Harvard Medical
School
Beliau menegaskan bahwa pemulihan trauma
adalah perjalanan panjang yang berfokus pada keamanan, pemaknaan ulang
pengalaman, dan rekoneksi sosial. Herman menekankan bahwa penyembuhan bukan
soal “menghapus” memori, tetapi mengembalikan kontrol atas narasi hidup
seseorang.
2. Dr. Bessel van der Kolk — Penulis The Body
Keeps the Score
Van der Kolk menjelaskan bahwa trauma
memengaruhi “otak, tubuh, dan hubungan interpersonal”. Ia menyebut bahwa tubuh
“menyimpan” reaksi trauma, sehingga proses pemulihan tidak hanya bergantung
pada terapi bicara, tetapi juga terapi yang melibatkan tubuh seperti
pernapasan, yoga, dan gerak ritmis.
Menurut beliau, “Trauma bukan hanya sesuatu yang terjadi di masa lalu, tetapi sesuatu yang terus hidup di dalam tubuh.” Pendekatan yang komprehensif menjadi kunci penyembuhan yang efektif.
Berbagai jurnal internasional mendukung efektivitas beberapa metode trauma healing:
1. Trauma-Focused Cognitive Behavioral
Therapy (TF-CBT)
Meta-analisis penelitian menunjukkan TF-CBT efektif mengurangi gejala trauma terutama pada anak, remaja, dan dewasa muda. Pendekatan ini menekankan:
- Stabilisasi emosi
- Restrukturisasi pikiran negatif
- Pemrosesan memori traumatis
Banyak studi mencatat bahwa TF-CBT menghasilkan penurunan signifikan gejala PTSD dibanding kontrol aktif.
2. EMDR (Eye Movement Desensitization and
Reprocessing)
Berbagai uji klinis (RCT) di jurnal
internasional membuktikan bahwa EMDR:
- Mampu menurunkan intensitas memori traumatis
- Efektif mengurangi kecemasan dan gejala PTSD
- Memperlihatkan hasil sebanding atau lebih baik daripada terapi kognitif di beberapa penelitian
Walaupun demikian, peneliti menekankan perlunya studi lanjutan jangka panjang untuk memantau kestabilan hasil terapi.
3. Pendekatan Berbasis Tubuh (Body-Based
Therapies)
Penelitian modern juga menunjukkan bahwa
terapi yang melibatkan gerakan, yoga, latihan pernapasan, dan kesadaran tubuh
dapat membantu regulasi emosi dan mengatasi ketegangan fisik akibat trauma.
Pendekatan ini biasanya dikombinasikan dengan terapi profesional lainnya.
Trauma healing adalah proses penting untuk
mengembalikan keseimbangan emosi, pikiran, dan tubuh setelah mengalami kejadian
yang mengguncang. Pendekatan ini didukung oleh pakar internasional dan
penelitian ilmiah yang menunjukkan efektivitas beberapa metode, seperti TF-CBT
dan EMDR.
Yang terpenting: trauma healing bukan
proses cepat, tetapi perjalanan yang membutuhkan dukungan, kesabaran, dan
bimbingan profesional. Dengan pendekatan yang tepat, setiap individu memiliki
kesempatan untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan yang sehat serta
bermakna.
daftar pustaka
- Bisson, J. I., Roberts, N. P., Andrew, M., Cooper, R., & Lewis, C. (2013). Psychological therapies for chronic post-traumatic stress disorder (PTSD) in adults. Cochrane Database of Systematic Reviews, (12), CD003388. https://doi.org/10.1002/14651858.CD003388.pub4
- Bryant, R. A. (2019). Post-traumatic
stress disorder: A state-of-the-art review. International Journal of
Clinical and Health Psychology, 19(3), 205–217. https://doi.org/10.1016/j.ijchp.2019.06.005
- Foa, E. B., Keane, T. M., Friedman, M. J., & Cohen, J. A. (Eds.). (2009). Effective treatments for PTSD: Practice guidelines from the International Society for Traumatic Stress Studies (2nd ed.). Guilford Press.
- Herman, J. L. (1992). Trauma
and recovery: The aftermath of violence—from domestic abuse to political terror. Basic Books.
- Kolk, B. A. van der. (2014). The body keeps the score: Brain, mind, and body in the healing of trauma. Viking.
- Levine, P. A. (2010). In an unspoken voice: How the body releases trauma and restores goodness. North Atlantic Books.
- National Institute for Health and Care Excellence. (2018). Post-traumatic stress disorder: Evidence review. NICE Guideline NG116.
- Shapiro, F. (2018). Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) therapy: Basic principles, protocols, and procedures (3rd ed.). Guilford Press.
- Silverman, W. K.,
Ortiz, C. D., Viswesvaran, C., Burns, B. J., Kolko, D. J., Putnam, F. W., &
Amaya-Jackson, L. (2008). Evidence-based psychosocial treatments for children
and adolescents exposed to traumatic events. Journal of Clinical Child &
Adolescent Psychology, 37(1), 156–183. https://doi.org/10.1080/15374410701818293
- Watkins, L. E., Sprang, K. R., & Rothbaum, B. O. (2018). Treating PTSD: A review of evidence-based psychotherapy interventions. Frontiers in Behavioral Neuroscience, 12, 258. https://doi.org/10.3389/fnbeh.2018.00258