Luka Cepat Sembuh, Begini Cara Merawatnya Berdasarkan Riset Internasional
Merawat luka bukan sekadar membersihkannya dengan air atau menutupinya dengan perban. Proses ini, jika dilakukan dengan benar, sangat penting untuk mencegah infeksi dan mempercepat pemulihan jaringan kulit. Sejumlah penelitian internasional pun telah mengungkap cara-cara merawat luka yang lebih efektif dan aman, terutama di masa ketika resistensi antibiotik dan infeksi sekunder semakin menjadi perhatian serius dalam dunia medis.
Langkah paling dasar namun sering kali dilupakan adalah mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh luka. World Health Organization (WHO) menegaskan pentingnya kebersihan tangan untuk menekan risiko infeksi silang. “Tangan yang bersih dapat mengurangi risiko infeksi silang secara signifikan,” begitu pernyataan resmi WHO yang disampaikan dalam berbagai kampanye kesehatan global. Penggunaan sabun antiseptik atau cairan pembersih berbasis alkohol sangat disarankan dalam proses ini.
Setelah tangan bersih, luka perlu dibersihkan dengan cara yang benar. Jurnal Advances in Skin & Wound Care tahun 2021 menyebutkan bahwa larutan saline atau garam fisiologis lebih direkomendasikan dibanding antiseptik keras seperti alkohol atau hidrogen peroksida. “Pembersihan luka dengan larutan saline lebih disarankan dibandingkan dengan penggunaan antiseptik keras seperti hidrogen peroksida atau alkohol, yang dapat merusak jaringan sehat dan memperlambat penyembuhan,” tulis Atiyeh dan koleganya dalam jurnal tersebut.
Setelah dibersihkan, luka perlu ditutup dengan perban yang tepat. Penelitian yang dimuat dalam International Wound Journal menunjukkan bahwa perban modern seperti hidrogel atau foam dressing mampu menjaga kelembapan luka, yang terbukti mempercepat regenerasi jaringan. Dalam artikelnya, Jones dan rekan-rekan menuliskan bahwa “penutupan luka dengan perban hidrogel atau foam dressing membantu mempertahankan kelembapan yang ideal untuk proses penyembuhan.”
Namun, penutupan luka saja tidak cukup. Perban harus diganti secara rutin, terutama jika sudah terlihat lembap atau kotor. Langkah ini penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang bisa memicu infeksi lanjutan. Pemantauan harian menjadi bagian dari perawatan aktif yang tak boleh diabaikan.
Selain itu, masyarakat juga perlu waspada terhadap tanda-tanda infeksi. Bila luka tampak semakin merah, bengkak, terasa sangat nyeri, atau mengeluarkan cairan bernanah, itu bisa menjadi sinyal bahaya. Apalagi jika disertai demam atau luka tak kunjung sembuh setelah beberapa hari. Dalam kondisi ini, konsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah wajib.
Aspek lain yang kerap terlupakan dalam proses penyembuhan luka adalah peran nutrisi. Tubuh memerlukan asupan yang cukup, terutama protein, vitamin C, dan zinc untuk mendukung pembentukan jaringan baru. “Asupan nutrisi yang cukup berpengaruh langsung terhadap durasi penyembuhan luka, terutama pada pasien lanjut usia dan penderita diabetes,” demikian disampaikan dalam penelitian oleh Rosyid (2022) yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrition & Metabolism.
Menggabungkan kebiasaan higienis, teknik perawatan modern, serta pola makan sehat terbukti dapat mempercepat penyembuhan luka dan menghindarkan komplikasi. Jika setelah beberapa hari luka tidak menunjukkan perbaikan, segera konsultasikan dengan dokter. Mengabaikan luka kecil hari ini bisa berujung pada masalah besar di kemudian hari.
jika ingin belajar cara merawat luka yang benar, yuk bergabung menjadi bagian dari Ners UNESA (*)
Sumber Rujukan:
- Atiyeh,
B. S., Hayek, S. N., & Gunn, S. W. (2021). Effect of silver on burn
wound infection control and healing: Review of the literature. Advances
in Skin & Wound Care, 34(4), 1–8. https://doi.org/10.1097/01.ASW.0000733712
- Jones, V., Grey, J. E., & Harding, K. G. (2018). Wound dressings. International Wound Journal, 15(1), 5–11. https://doi.org/10.1111/iwj.12925
- Rosyid FN. (2022). Wounds: physiological mechanisms and factors affecting healing. Int J Res Med Sci; 10(4):1001-1006; : https://dx.doi.org/10.18203/2320-6012.ijrms20221000