Teori Dorothy E. Johnson: (Behavioral System)
1. Biografi Tokoh
Dorothy E. Johnson lahir pada 21 Agustus
1919 di Savannah, Georgia, Amerika. Johnson meninggal pada 04 Februari 1999.
Key Largo, Florida, Amerika. Johnson mendapatkan gelar AA dari Armstrong Junior
Collage pada 1938, gelar BSN dari Vanderbilt University pada 1942, dan gelar
MPH dari Harvard University pada 1948. Johnson adalah profesor instruktur dan
profesor keperawatan anak di Sekolah Keperawatan Universitas Vanderbilt dari
tahun 1944 hingga 1949. Teori sistem perilaku Johnson tumbuh dari keyakinan Nightingale
yakni tujuan perawatan adalah membantu individu-individu untuk mencegah atau
mengobati dari penyakit atau cidera. Ilmu dan seni merawat harus berfokus pada
pasien sebagai individu dan bukan pada identitas yang spesifik.
Ia memandang manusia sebagai makhluk
utuh dengan dua sistem utma yaitu biologis dan perilaku yang harus seimbang
agar seseorang dapat berfungsi optimal. Menurut Johnson, tujuan asuhan
keperawatan adalah membantu individu menampilkan perilaku yang adaptif dan
efektif untuk menjaga kesehatan serta mencegah penyakit. Pada tahun 1961,
ia mengembangkan teori bahwa klien sering mengalami ketegangan akibat stimulus
internal maupun eksternal yang menyebabkan gangguan dalam sistem perilakunya.
Perawat berperan mengurangi stimulus yang menegangkan dan mendukung mekanisme
adaptasi alami pasien.
Dalam merumuskan modelnya, Johnson
menggabungkan konsep dari psikologi, sosiologi, dan etnologi, serta menggunakan
pendekatan teori sistem. Ia mengelompokkan perilaku manusia ke dalam tujuh
subsistem: keterikatan, prestasi, agresif, ketergantungan, seksual, ingestif,
dan eliminatif. Setiap subsistem memiliki pola respons dan tujuan tertentu yang
terbentuk dari pengalaman serta interaksi sosial.
Melalui Behavioral System Model, Johnson
menegaskan bahwa perilaku manusia merupakan sistem yang kompleks namun
terorganisir, dan perawat berperan penting menjaga keseimbangan sistem tersebut
agar individu tetap sehat dan adaptif.
2. Aspek Teori
Subsistem Pencapaian (Achievement),
perilaku untuk mencapai tujuan, prestasi, dan kompetensi (perawat berusaha
menyelesaikan pelatihan untuk meningkatkan kompetensinya).
Subsistem
Perhubungan (Afilasi), pencapaian hubungan dengan lingkungan yang adekuat
(mahasiswa barau yang beradaptasi dengan lingkungannya).
Subsistem
Penyerangan (Agresi), koping terhadap ancaman di lingkungan (pasien menolak
tindakan medis karena merasa takut atau terancam).
Subsistem
Ketergantungan (Dependency), kebutuhan akan perhatian, dukungan, dan bantuan
(pasien meminta bantuan perawat untuk berpindah posisi).
Subsistem
Eliminasi, berhubungan dengan pembuangan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh
tubuh secara biologis (pasien meminta izin ke toilet sesuai dengan jadwal).
Subsistem
Ingesti, berhubungan dengan pola makan dan minum.
Subsistem
Seksualitas, pemenuhan kebutuhan dicintai dan mencintai.
3. Paradigma
1. Manusia
Johnson memandang manusia sebagai sistem
perilaku yang memiliki pola, pengulangan, dan cara bersikap yang terorganisasi
dan terintegrasi, yang menghubungkan individu dengan lingkungannya. Person
adalah sistem bagian-bagian yang saling bergantung yang harus diatur agar
keseimbangan terjaga.
2. Lingkungan
Lingkungan adalah faktor di luar sistem
perilaku individu yang dapat memengaruhi dan dimanipulasi oleh perawat untuk
mencapai tujuan kesehatan pasien. Sistem perilaku berusaha menjaga keseimbangan
dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Lingkungan yang stabil memungkinkan
perilaku yang baik dan kesehatan terjaga.
3. Perawat
Perawatan menurut Johnson adalah tindakan
eksternal untuk memberikan organisasi perilaku pasien saat stres, menggunakan
mekanisme pengaturan dan sumber daya. Perawatan adalah seni dan ilmu yang
melibatkan pengetahuan tentang keteraturan, gangguan, dan kontrol. Aktivitas
perawatan bersifat pelengkap bagi pengobatan medis dan tidak bergantung pada
wewenang medis.
4. Kesehatan
Kesehatan adalah kondisi yang dinamis dan
sulit dipahami, dipengaruhi faktor biologis, psikologis, dan sosial. Fokus
utama adalah pada kesehatan sebagai nilai yang diinginkan, bukan penyakit.
Keseimbangan dalam sistem perilaku mencerminkan kesehatan; gangguan
keseimbangan dapat menyebabkan memburuknya kesehatan.
Kasus
Pasien yang sedang diteliti adalah seorang
gadis berumur sebelas tahun bernama Zeinab. M, siswa kelas satu sekolah
menengah pertama yang telah dirawat di pusat infeksi karena demam sejak 29/10/2016.
Menurut ibunya, ia mengalami mimisan dua bulan yang lalu dan beberapa hari
kemudian karena tekanan darah rendah dan demam tinggi, mereka dirujuk ke rumah
sakit. Ia telah dirawat selama empat hari dan segera setelah keluar dari rumah
sakit, demam mulai muncul kembali yang biasa dikendalikan dengan Acetaminophen.
Ia kembali dirujuk ke rumah sakit dan dirawat lagi karena demam tinggi sejak
minggu lalu. Hasil pemeriksaan menunjukkan trombosit dan sel darah putih
rendah. Berdasarkan hasil klinis anak tersebut, diagnosis pertama adalah
Leukemia Limfoblastik Akut (ALL) dan Zeinab dirawat di bagian darah Rumah Sakit
17th Sharivar. Ia menjalani kemoterapi dan antibiotik. Pada pemeriksaan klinis,
mukosa mulut Zeinab tampak meradang yang disertai anoreksia dan enggan makan.
Zeinab lelah, lemah, dan tidak mau bangun dari tempat tidur. Ibunya mengatakan
Zeinab mengalami luka di area rektum akibat diare yang sering. Pada pemeriksaan
mental awal, Zeinab tidak membuat kontak mata, tetapi setelah beberapa sesi
diketahui bahwa ia cemas tentang masa depan yang tidak pasti. Ia sadar akan
tempat, waktu, dan dirinya sendiri. Berat badannya 40 kg dan ia adalah anak
ketiga dalam keluarga. Ia tidak menyebutkan riwayat penyakit dalam keluarga. Ia
lahir melalui persalinan normal dan ibunya tidak mengalami masalah selama
kehamilan. Anak-anak lainnya sehat. Vaksinasi Zeinab lengkap dan proses tumbuh
kembang normal. Menurut ibu Zeinab, neneknya menjaga anak-anak lain selama
Zeinab dirawat di rumah sakit.
Jawaban :
1. Agresif
Zeinab mengalami demam 38,5 derajat dan
kulitnya hangat. Dia rentan terhadap infeksi karena leukopenia berat
2. Achievement
Karena penyakit dan dirawat di rumah sakit
serta tertinggal dalam kurikulum, dia merasa marah dan sedih sehingga frustrasi
dan mengalami gangguan pada subsistem pencapaian
3. Affiliate
Teridentifikasi saat pemeriksaan Zeinab
bahwa karena menjalani prosedur ofensif dan proses penyakit, dia menjadi marah
dan menghindari hubungan dengan keluarga serta mengalami penarikan diri.
4. Dependence
Karena kelemahan yang disebabkan oleh
penyakit dan efek samping kemoterapi, seperti kelelahan, Zeinab tidak bisa
melakukan aktivitas sehari-hari sendiri dan untuk memenuhi kebutuhannya seperti
memakai baju, pergi ke kamar mandi, dan sebagainya, dia dibantu oleh
ibunya.
5. Elimination
Karena luka di daerah rektum yang
disebabkan oleh obat kemoterapi, Zeinab sering mengalami diare dan kerusakan
kulit di daerah rektum serta merasakan nyeri saat buang air besar dan menangis
saat defekasi.
6. Ingestive
Zeinab mengalami trombositopenia dan rentan
terhadap perdarahan. Dia tidak bisa menggunakan cukup cairan melalui mulut dan
mengalami anoreksia.
7. Sexuality
Karena dia masih lajang dan belum mencapai
masa pubertas, subsistem ini tidak dapat diinvestigasi pada dirinya
oleh:
1. Afifah Balqis (25101844014)
2. Latifatul Laili (25101844022)
3. Fransiska Victoria (25101844039)
4. Zada Ivana Yuliarian (25101844040)