Teori florence nightingale ( Enviromental Theory ) : Implikasi Kasus
BIOGRAFI TOKOH
Florence Nightingale lahir pada 12 Mei 1820 di Florence, Italia, dari keluarga kaya Inggris. Sejak muda, ia tertarik pada bidang kesehatan dan membantu orang lain meski awalnya mendapat penolakan keluarga. Pada Perang Krim 1854, ia memimpin tim perawat untuk merawat tentara Inggris, melakukan reformasi kebersihan rumah sakit yang berdampak besar pada penurunan angka kematian. Dikenal sebagai "Lady of The Lamp" karena kerap mengelilingi rumah sakit malam hari dengan membawa lampu. Nightingale mendirikan sekolah keperawatan pertama di St. Thomas' Hospital, London, pada 1860, yang menjadi model keperawatan modern. Ia juga ahli statistik yang menggunakan data untuk meningkatkan reformasi kesehatan. Florence meninggal pada 1910 dan diakui sebagai pelopor keperawatan modern.
JUDUL TEORI
Teori Lingkungan (Environmental Theory)
ASPEK UTAMA TEORI
- Manusia: Manusia (pasien) adalah individu dinamis yang berinteraksi dengan lingkungan dan memiliki kekuatan untuk sembuh dengan bantuan yang tepat
- Kesehatan: Kesehatan adalah keseimbangan antara individu dan lingkungan, bukan hanya ketiadaan penyakit, tetapi juga kemampuan tubuh menggunakan kekuatan alami untuk pemulihan
- Keperawatan: Seni dan ilmu untuk membantu pasien mencapai kesehatan optimal melalui pengaturan lingkungan yang mendukung kenyamanan dan penyembuhan
- Lingkungan Fisik: kesehatan rumah, ventilasi udara, pencahayaan, kebisingan, kebersihan kamar dan pribadi, nutrisi, dan fasilitas tidur.
PARADIGMA
- Manusia: Individu yang berinteraksi aktif dengan lingkungan, membutuhkan perawatan dan lingkungan yang mendukung pemulihan.
- Kesehatan: Kondisi optimal di mana individu mampu menggunakan kekuatan alami tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dan pulih dari penyakit.
- Keperawatan: Seni dan ilmu membantu individu mencapai kesehatan optimal dengan mengatur lingkungan sebaik mungkin. Perawat bertugas menciptakan lingkungan yang nyaman, bersih, dan sehat untuk mempercepat proses penyembuhan.
- Lingkungan: Faktor eksternal seperti udara bersih, air, pencahayaan, kebisingan, kebersihan, nutrisi, dan ventilasi yang sangat mempengaruhi kesehatan dan pemulihan pasien. Nightingale percaya bahwa evaluasi dan pengelolaan lingkungan adalah kunci utama dalam praktik keperawatan.
CONTOH APLIKASI TEORI PADA SOAL KASUS
Tn. R yang berusia 65 tahun dan didiagnosis Tuberculosis. Tn. R bekerja sebagai karyawan swasta dan memiliki pendidikan terakhir Sekolah Menengah Pertama (SMP). Keluhan yang dirasakan oleh Tn. R berupa batuk yang disertai sesak nafas dan demam selama 2 hari. Bentuk dahak yang keluar saat batuk adalah kental berwarna kuning dan tidak memiliki nafsu makan. Setelah melakukan observasi, diketahui bahwa klien biasa merokok hingga tiga bungkus setiap harinya. Tanda-tanda vital klien saturasi oksigen 97%, Frekuensi Nafas RR: 26 Kali/Menit, S: 37,8 OC. Terdapat suara ronkhi. BB: 55 kg, TB: 165 cm. Klien tidur dengan posisi bantal lebih tinggi dari biasanya, sehingga mengakibatkan sakit di kepala pada klien pada saat bangun pagi. Klien tampak lemas sehingga bergantung pada keluarganya untuk melakukan aktivitas sehari-hari selama dirumah sakit. Kondisi tempat pelayanan kesehatan yang ditempati oleh klien yaitu didalam ruangan dengan jendela kamar tertutup dan pintu kamar kecil. Selain itu, terdapat tempat sampah kecil di samping tempat tidur klien yang berisi tisu bekas dahak klien.
Pengkajian
- Udara bersih: Klien mengatakan jendela yang ada di kamar di tutup karena takut ada debu yang akan masuk dan memperparah batuknya. Sirkulasi udara di kamar sangat kurang baik karena jendela kamar selalu di tutup, dan lubang untuk sirkulasi udara tidak ada. Selain itu, klien juga masih merokok sebelum didiagnosa tuberculosis, dan baru berusaha berhenti saat terdiagnosa tuberculosis.
- Pencahayaan: Klien mengatakan pada saat di rumah sakit sering berjemur, namun pada saat di rumah jarang terpapar cahaya matahari. Hal ini disebabkan karena klien selalu berada di dalam kamar dengan penutup jendela tidak dibuka, sehingga cahaya tidak masuk ke kamar.
- Kebersihan: Terdapat tempat sampah di samping tempat tidur klien yang berisi tisu bekas dahak klien. Selain itu, keluarga mengatakan lantai di rumah juga jarang dibersihkan karena kesibukannya dalam bekerja dan sprei tempat tidur pasien juga jarang di ganti.
- Drainase yang efisien: Penggunaan air bersih berasal dari sumur bor dan jarak antara sepiteng berjarak 5 meter dan menggunakan toilet jongkok.
- Air bersih: Konsumsi air minum menggunakan air galon dan air rebusan. Penggunaan air bersih juga dilakukan untuk mencuci tangan klien sebelum makan. Namun selama dua hari berada di rumah sakit, klien mengatakan tidak pernah mandi
- Diet: Kurangnya nafsu makan klien disebabkan karena batuk dan sesak nafas sehingga terasa lemas. Konsumsi makanan yang dilakukan klien adalah kue satu potong dan satu gelas susu
- Administrasi keperawatan: Aktivitas klien bergantung pada keluarga selama di rumah sakit. Klien mengatakan sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit. Semua administrasi keperawatan selalu berdiskusi dengan keluarga dalam pengambilan keputusan.
Diagnosa
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekret yang tertahan (D.0001)
Subjektif: Klien batuk dan sesak nafas, dahak berwarna kuning dan kental
Objektif: Suara nafas ronkhi, saturasi 97% : RR: 26 kali/menit Hasil rontgen: Terdapat bercak infiltrate di lobus atas paru – pari (TB paru aktif)
2. Gangguan Pola tidur berhubungan dengan keadaan lingkungan (D.0055)
Subjektif: klien mengatakan tidur hanya 3-4 jam, hal ini dikarenakan tidak merasa nyaman dan sulit saat memulai tidur, selain itu suhu ruangan yang ditempati terlalu dingin walaupun sudah memakai dua selimut
Objektif: Tampak kantor mata hitam pada kedua mata klien dan badan yang lemas
3. Defisit Nutrisi berhubungan ketidakmampuan mencerna makanan (D.0019)
Subjektif: Klien mengatakan tidak bernafsu untuk makan dikarenakan batuk dan sesak nafas
Objektif: Tampak penurunan nafsu makan dari biasanya.
Intervensi
Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang berlebih Intervensi yang diberikan berupa latihan batuk efektif (I.01006)
- Observasi: Monitor keadaan pasien dan sputum.
- Terapeutik: Atur posisi pasien fowler atau semi fowler, pasang bengkok di pangkuan pasien untuk pengeluaran sputum.
- ·Edukasi: Berikan penjelasan prosedur batuk efektif kepada pasien, ajarkan Teknik nafas dalam kepada pasien dan anjurkankan pengulangan Tarik nafas dalam hingga 3 kali.
Gangguan Pola tidur berhubungan dengan keadaan lingkungan Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: identifikasi faktor pengganggu tidur dan pola tidur
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan (Suhu dan tempat tidur), jadwalkan tidur dan meningkatkan kenyamanan seperti pengaturan posisi, dan terapi pijat.
Defisit Nutrisi berhubungan ketidakmampuan mencerna makanan Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi: monitor status nutrisi dan asupan makanan
- Terapeutik: berikan pedoman diet
- Edukasi: ajarkan diet yang diprogramkanKolaborasi: kolaborasi dengan ahli gizi tentang jumlah kalori dan menu makanan.
Implementasi
Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi berlebih
- Rabu, 4 Desember 2024: identifikasi keadaan pasien dan batuk klien, Mengatur posisi semi fowler atau fowler, Monitor Frekuensi, kedalaman, usaha nafas,bunyi nafas tambahan, Memberikan oksigen.
- Kamis, 5 Desember 2024: mengatur posisi klien, Memasang bengkok di pangkuan pasien untuk membuang sekret, Menjelaskan prosedur batuk efektif, Menganjurkan, Menganjurkan mengulang Tarik nafas dalam hingga 3 kali, Menganjurkan dengan kuat langsung setelah Tarik nafas dalam yang ke-3, monitor pola nafas, jumlah, warna, aroma sputum, berikan air hangat bila perlu untuk memperlancar pengeluaran dahak.
- Jumat, 6 Desember 2024: Monitor Frekuensi, kedalaman, usaha nafas, dan bunyi nafas klien
Gangguan Pola tidur berhubungan dengan keadaan lingkungan
- Rabu, 4 Desember 2024: identifikasi pola aktivitas tidur, faktor pengganggu tidur dan mengubah lingkungan klien agar lebih nyaman seperti suhu dan tempat tidur.
- Kamis, 5 desember 2024: membantu pasien menghilangkan stres sebelum tidur dan Mengatur jadwal tidur pasien melibatkan keluarga. Ajarkan Teknik relaksasi agar pasien lebih santai.
Defisit Nutrisi berhubungan ketidakmampuan mencerna makanan
- Kamis 5 Desember 2024: Identifikasi status nutrisi, dan menanyakan pasien makanan apa yang beliau sukai, dan memperhatikan asupan makanan yang telah di konsumsi, mengajarkan klien tentang program diet yang telah d kolaborasi dengan ahli gizi.
- Jumat, 6 Desember 2024 : monitor status gizi klien dan asupan.
Evaluasi
Teori Florence Nightingale dalam asuhan keperawatan pada pasien tuberkulosis sangat efektif dalam meningkatkan kondisi pasien. Pada pasien Tn. R dengan TB paru mengungkapkan beberapa masalah keperawatan prioritas seperti kebersihan jalan nafas yang tidak efektif, gangguan pola tidur akibat lingkungan yang tidak nyaman, dan defisit nutrisi karena nafsu makan menurun. Intervensi keperawatan berdasarkan teori Nightingale berfokus pada perbaikan lingkungan fisik pasien, seperti menjaga kebersihan udara, pencahayaan, ventilasi yang memadai, serta edukasi dan dukungan nutrisi yang cukup. Hasil setelah intervensi, keluarga pasien memahami pentingnya perawatan lingkungan yang baik untuk mendukung kesembuhan TB, dan pasien mengalami peningkatan kondisi melalui pengelolaan lingkungan, pola istirahat, dan nutrisi yang lebih baik.
oleh:
Neyza Nayyara Putri Ginanda (25101844006)
Archi Risantia Nabillah (25101844009)
Fakhri Fathir Rifqi (25101844015)
Naura Whisda Shafaharani (25101844027)