TEORI TOKOH KEPERAWATAN JEAN WATSON : CARING
BIOGRAFI TOKOH
Margaret Jean Harman Watson, PhD,
RN, AHN-BC, FAAN, lahir dan dibesarkan di kota kecil Welch, West Virginia, yang
terletak di Pegunungan Appalachian. Ia merupakan anak bungsu dari delapan
bersaudara.
Watson bersekolah di sekolah
menengah di West Virginia, lalu melanjutkan pendidikan keperawatan di Lewis
Gale School of Nursing di Roanoke, Virginia. Setelah lulus pada tahun 1961, ia
menikah dengan Douglas Watson dan pindah ke negara bagian Colorado. Setelah
pindah ke Colorado, Watson melanjutkan pendidikan keperawatan dan studi
pascasarjana di University of Colorado. Ia meraih sarjana Keperawatan pada
tahun 1964, Magister Keperawatan Psikiatri Kesehatan Mental pada tahun 1966, Doktor
dalam bidang Psikologi Pendidikan dan Konseling pada tahun 1973. Setelah
menyelesaikan gelar doktoralnya, Watson bergabung sebagai staf pengajar di School
of Nursing, University of Colorado Health Sciences Center, Denver, dan
menjalani berbagai posisi akademik serta administratif.
Pada tahun 1981–1982, ia melakukan studi sabatikal
internasional ke Selandia Baru, Australia, India, Thailand, dan Taiwan. Pada
tahun 1980-an, Watson bersama koleganya mendirikan Center for Human Caring di
University of Colorado pusat studi pertama di Amerika Serikat yang fokus pada
penerapan konsep caring dalam praktik klinis, penelitian, pendidikan, dan
kepemimpinan. Melalui pusat ini, ia mengembangkan berbagai program pendidikan,
penelitian, dan kolaborasi internasional dengan negara-negara seperti
Australia, Brasil, Kanada, Korea, Jepang, Inggris, Venezuela, dan banyak negara
lainnya.
Watson juga mengajar teori caring
untuk mahasiswa doktoral melalui International Certificate Program in
Caring-Healing. Di School of Nursing, ia pernah menjabat sebagai Ketua Program
Sarjana Keperawatan dan Wakil Dekan. Ia berperan besar dalam merancang program
doktor keperawatan berbasis caring (Nursing Doctorate/ND), yang kemudian
berkembang menjadi gelar Doctor of Nursing Practice (DNP) pada tahun 2005.
Selain karier akademiknya, Watson
aktif dalam kegiatan masyarakat, termasuk menjadi pendiri dan anggota dewan Boulder
County Hospice, serta bekerja sama dengan berbagai fasilitas pelayanan
kesehatan. Selama kariernya, Watson menerima berbagai hibah penelitian,
penghargaan federal, dan dana dari institusi publik maupun swasta untuk
mendukung karya ilmiahnya.
Pada tahun 1992, University of Colorado menganugerahkan gelar Distinguished Professor of Nursing kepadanya. Ia juga telah menerima enam gelar doktor kehormatan dari universitas di Amerika Serikat dan tiga gelar doktor kehormatan internasional, termasuk dari Göteborg University (Swedia), Luton University (Inggris), dan University of Montreal (Kanada). Watson menerima sejumlah penghargaan bergengsi, termasuk: NLN Martha E. Rogers Award (1993), Honorary Lifetime Certificate as a Holistic Nurse (1997), Fetzer Institute Norman Cousins Award (1999), Penobatan sebagai penerima kursi akademik pertama di bidang Caring Science (Murchison-Scoville Chair) pada tahun 1999
Ia sering diundang
sebagai pembicara utama di berbagai universitas ternama, seperti Boston
College, Columbia University, SUNY, serta acara ilmiah di banyak negara.
Watson juga menerima beasiswa dan penghargaan internasional, termasuk: International Kellogg Fellowship di Australia (1982), Fulbright Research and Lecture Award ke Skandinavia (1991), Tur kuliah di Inggris (1993), Ia telah menulis 11 buku, ikut menulis 6 buku lainnya, serta menerbitkan banyak artikel ilmiah di jurnal keperawatan.
DEFINISI DAN KONSEP UTAMA TEORI CARING JEAN WATSON
Teori
keperawatan Jean Watson atau Human Caring Theory
merupakan salah satu teori keperawatan paling berpengaruh dalam perkembangan
ilmu keperawatan modern. Watson mengembangkan teorinya sebagai bentuk kritik
terhadap paradigma biomedis yang terlalu menekankan aspek fisik dan teknis
dalam pelayanan kesehatan. Ia berusaha mengembalikan hakikat keperawatan
sebagai profesi humanistik yang berlandaskan kasih sayang, empati, dan hubungan
antar manusia (Akbari
et al., 2022; J. Watson, 2018).
Teori
Human Caring yang dikembangkan oleh
Jean Watson berlandaskan pada tiga pilar utama, yaitu humanisme, eksistensialisme, dan fenomenologi,
yang kemudian diperkuat oleh dimensi spiritual dan transpersonal. Humanisme
menekankan penghargaan terhadap martabat dan nilai setiap manusia sebagai
makhluk yang unik, eksistensialisme menyoroti kebebasan dan tanggung jawab
individu dalam menemukan makna hidup, sedangkan fenomenologi menuntun perawat
untuk memahami pengalaman pasien secara subjektif dan empatik melalui kehadiran
penuh (authentic presence). Watson
memandang caring sebagai ekspresi kesadaran moral dan spiritual, bukan sekadar
tindakan teknis, melainkan cara menjadi seorang
perawat yang hadir dengan cinta kasih dan empati. Hubungan antara perawat dan
pasien dipandang sebagai pertemuan jiwa (soul-to-soul
connection) yang memungkinkan terjadinya penyembuhan sejati dan
pertumbuhan manusia secara holistik. Dengan demikian, landasan filosofis teori
Watson menegaskan bahwa keperawatan adalah profesi kemanusiaan yang menyatukan
sains, seni, dan spiritualitas dalam pelayanan yang penuh kasih (Akbari
et al., 2022; J. Watson, 2018; K. Sitzman & J. Watson, 2019; Pajnkihar et
al., 2023)
Watson
awalnya memperkenalkan sepuluh Carative Factors
sebagai nilai dasar yang membedakan keperawatan dari profesi kesehatan lain. Carative Factors menekankan nilai-nilai moral,
spiritual, dan humanistik yang menjadi dasar hubungan terapeutik antara perawat
dan pasien. Dalam perkembangannya, Watson memperbarui konsep tersebut menjadi Caritas Processes, untuk menegaskan dimensi
spiritual dan kesadaran penuh (caring consciousness)
dalam praktik keperawatan Pembentukan nilai humanistik–altruistic (Akbari
et al., 2022; Chadwick & Hosseinzadeh, 2021).
Perubahan istilah dari Carative Factors ke Caritas Processes dilakukan agar caring tidak hanya dipahami sebagai serangkaian tindakan, tetapi sebagai proses kesadaran dan hubungan transpersonal antara perawat dan pasien. Setiap tindakan keperawatan, dalam perspektif Watson, harus berakar pada niat (intention), kehadiran autentik (authentic presence), dan cinta kasih tanpa syarat (loving-kindness). Proses ini menghubungkan aspek ilmiah, moral, dan spiritual dari keperawatan, serta membantu pasien mencapai keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa (K. Sitzman & J. Watson, 2019; Pajnkihar et al., 2023).
ORIGINAL 10 CARATIVE FACTORS:
1. Formation of a Humanistic Altruistic System of Values
Nilai caring humanistik dan altruistik biasanya tumbuh sejak
masa kanak-kanak, namun dapat diperkuat melalui pendidikan keperawatan. Faktor
ini menggambarkan kepuasan batin melalui pemberian, empati, dan kemampuan
memperluas makna diri dalam merawat orang lain.
2. Instillation of Faith-Hope
Faktor ini membantu perawat memberikan harapan positif dan
dukungan emosional agar pasien mampu percaya pada proses penyembuhan. Perawat
juga berperan dalam membangun hubungan terapeutik yang mendorong pasien untuk
menjalani perilaku hidup sehat.
3. Cultivation of Sensitivity to Self and Others
Perawat diajak mengenali dan memahami perasaannya sendiri
sehingga dapat menerima diri dan menjadi lebih autentik. Dengan demikian,
perawat menjadi lebih peka dan peduli terhadap perasaan pasien.
4. Development of a Helping-Trust Relationship
Hubungan saling percaya merupakan inti caring transpersonal. Hubungan ini memungkinkan pasien mengekspresikan perasaan positif maupun negatif. Komponen penting dalam hubungan ini meliputi: Keaslian dan keterbukaan (konruen), EmpatI, Kehangatan tanpa sikap menguasai, Komunikasi efektif
5. Promotion and Acceptance of the Expression of Positive and Negative Feelings
Perawat perlu siap menerima berbagai emosi pasien, baik yang
menyenangkan maupun tidak. Perawat juga perlu menyadari bahwa pemahaman
emosional berbeda dari pemahaman intelektual.
6. Systematic Use of the Scientific Problem-Solving Method for Decision Making
Penerapan proses keperawatan digunakan untuk merencanakan
asuhan secara ilmiah, sistematis, dan terstruktur. Hal ini membantu memperkuat
profesionalisme perawat dan membedakan perawat dari sekadar pelaksana perintah
dokter.
7. Promotion of Interpersonal Teaching-Learning
Faktor ini menunjukkan bahwa caring berbeda dari curing.
Perawat berperan memberi edukasi sehingga pasien memahami kondisinya dan mampu
merawat diri serta menentukan keputusan terkait kesehatannya.
8.Provision for a Supportive, Protective, and Corrective Mental, Physical, Sociocultural, and Spiritual Environment
Perawat perlu mempertimbangkan lingkungan internal
(psikologis, spiritual, budaya) dan eksternal (kenyamanan, privasi, keamanan,
kebersihan, dan estetika) yang memengaruhi proses kesehatan dan penyakit.
9. Assistance with Gratification of Human Needs
Perawat memahami bahwa kebutuhan manusia bersifat bertingkat.
10. Allowance for Existential-Phenomenological Forces
Faktor ini mendorong pemahaman mendalam mengenai makna pengalaman hidup pasien. Watson menyadari faktor ini kompleks, namun penting untuk membantu perawat memahami manusia secara utuh.
HUBUNGAN TRANSPERSONAL DALAM CARING
Hubungan ini menggambarkan interaksi
yang mendalam antara perawat dan pasien yang melampaui batas fisik, teknis, dan
rasional menuju dimensi spiritual dan eksistensial manusia. Watson
mendefinisikan hubungan transpersonal sebagai bentuk komunikasi jiwa-ke-jiwa (soul-to-soul connection) yang ditandai oleh kesadaran
penuh (mindful awareness), kehadiran
autentik (authentic presence), dan cinta
kasih tanpa syarat (loving-kindness).
Dalam hubungan ini, perawat hadir secara sadar dan tulus, sehingga mampu
memahami pengalaman pasien bukan hanya dari aspek klinis, tetapi juga dari
makna hidup dan penderitaan yang dialaminya (J.
Watson, 2018).
Hubungan transpersonal dalam caring
berakar pada pandangan fenomenologis dan humanistik, di mana pasien dipandang
sebagai manusia yang utuh, memiliki nilai dan makna dalam setiap pengalamannya.
Melalui kehadiran empatik, perawat membantu pasien menemukan keseimbangan dan
penyembuhan tidak hanya pada tingkat fisik, tetapi juga emosional dan
spiritual. Hubungan ini menciptakan apa yang disebut Watson sebagai caring moment atau caring
occasion, yaitu momen sakral ketika perawat dan pasien terhubung
secara mendalam dalam kesadaran bersama. Proses tersebut memungkinkan
terjadinya pertumbuhan dan transformasi bagi keduanya — pasien menemukan kedamaian,
sedangkan perawat memperluas kesadaran dan makna profesinya (K.
Sitzman & J. Watson, 2019; Pajnkihar et al., 2023).
Caring yang berlandaskan hubungan
transpersonal membantu mengurangi tingkat kelelahan emosional (burnout) dan meningkatkan rasa keterhubungan spiritual
dalam lingkungan kerja. Dengan demikian, hubungan transpersonal tidak hanya
menjadi dimensi spiritual dari teori Watson, tetapi juga menjadi fondasi etis
dan moral dalam praktik keperawatan profesional, di mana perawat dan pasien
saling berpartisipasi dalam proses penyembuhan dan pertumbuhan kemanusiaan yang
lebih utuh (Chadwick
& Hosseinzadeh, 2021).
ASUMSI UTAMA
Empat asumsi utama
yang menjadi dasar konseptual teori Human
Caring, yaitu Nursing, Person (Human Being), Health, dan Environment. Keempat aspek ini
saling berkaitan dalam membentuk pandangan dunia (worldview)
yang menempatkan manusia sebagai makhluk holistik dan caring sebagai inti dari
profesi keperawatan.
1.
Nursing
Nursing (keperawatan) sebagai kombinasi antara ilmu dan
seni kemanusiaan (the art and science of human caring).
Keperawatan bukan sekadar penerapan prosedur klinis, tetapi merupakan praktik
moral dan spiritual yang menekankan hubungan transpersonal antara perawat dan
pasien (Watson, 2018). Caring merupakan inti dari keperawatan sejati, yang
diwujudkan melalui kehadiran penuh (authentic
presence), empati, dan kasih sayang dalam setiap interaksi
terapeutik. Melalui proses caring, perawat membantu pasien mencapai
keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa, serta menumbuhkan potensi
penyembuhan sejati (true healing) (K.
Sitzman & J. Watson, 2019).
2.
Person
person menggambarkan manusia sebagai makhluk holistik yang
memiliki dimensi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang saling
terintegrasi. Setiap individu bersifat unik, berharga, dan memiliki potensi
untuk tumbuh serta menemukan makna hidup dari setiap pengalaman, termasuk
penderitaan. Manusia bukan hanya penerima asuhan, melainkan juga mitra aktif
dalam proses penyembuhan (Ali
et al., 2021).
3.
Health
Health (kesehatan) bukan hanya sebagai ketiadaan penyakit, tetapi
sebagai keadaan
harmoni antara pikiran, tubuh, dan jiwa (mind–body–spirit harmony). Kesehatan dipahami sebagai keseimbangan dinamis
antara berbagai dimensi kehidupan manusia, baik fisik, emosional, sosial,
maupun spiritual (Pajnkihar et al., 2023). Dalam teori ini, penyembuhan sejati
dapat terjadi ketika individu mampu mencapai kedamaian batin dan kesadaran
spiritual yang selaras dengan dirinya dan lingkungannya (Pajnkihar
et al., 2023).
4.
Environment
Lingkungan
mencakup lebih dari sekadar kondisi fisik tempat pasien dirawat. Lingkungan
juga meliputi suasana emosional, sosial, budaya, dan spiritual yang memengaruhi
kesejahteraan individu (Hamed et al., 2020). Lingkungan yang diciptakan perawat
harus mampu mendukung pertumbuhan, penyembuhan, dan keseimbangan manusia. Hal
ini dapat diwujudkan melalui penciptaan atmosfer penuh kasih, ketenangan, dan
rasa aman yang memperkuat proses penyembuhan (Hamed
et al., 2020).
STUDI KASUS
Kasus berikut diadaptasi dari contoh
klinis Valerie Taylor (2008) untuk presentasi dalam mata kuliah Advanced
Nursing Synthesis for Nurse Midwifery Concentration, East Carolina
University College of Nursing
Anda adalah seorang perawat lulusan
magister yang baru bekerja di rumah sakit kecil dengan kapasitas 100 tempat
tidur. Anda berkomitmen menerapkan teori Caring Jean Watson dalam praktik
melalui hubungan yang hangat dan terapeutik antara perawat dan pasien. Karena
masih baru, Anda secara perlahan memperkenalkan teori ini kepada tim Kesehatan lainnya
Hari ini Anda merawat Maria,
perempuan berusia 23 tahun, etnis Hispanic, gravida 4 para 4 (TPAL 4004), yang
datang dalam keadaan persalinan di usia kehamilan 39 minggu. Maria pindah
layanan kesehatan di usia kehamilan 36 minggu. Ia membayar sendiri namun
mendapatkan asuransi Maternity Medicaid saat akan melahirkan. Maria tidak bisa
berbahasa Inggris. Dengan dibantu oleh suaminya (Tn. Daniel) untuk
menerjemahkan ucapan oranglain. Daniel dapat membaca dan menulis, tetapi Maria
tidak. Keduanya pindah ke daerah tersebut untuk bekerja di pabrik sehingga
mereka minim dukungan sosial. Maria tinggal di rumah untuk mengurus ketiga
anaknya, dan saat ini adik iparnya sedang menjaga anak-anak tersebut. Mereka
beragama Katolik, namun belum aktif di gereja. Riwayat kesehatan dan kehamilan
Maria normal. Dua anak pertamanya lahir di Meksiko, dan anak ketiga lahir satu
tahun lalu di rumah sakit lain di Amerika.
Sebagai perawat, teori Watson
membantu Anda melihat Maria dan keluarganya secara holistic melibatkan aspek biologi, psikologi
dan spiritual. Anda berusaha hadir secara autentik, membangun hubungan saling
percaya, dan menciptakan lingkungan yang mendukung penyembuhan emosional,
fisik, dan spiritual.
Pada pukul 00.45, Maria melahirkan
bayi perempuan sehat bernama Lilia secara spontan. Nilai Apgar bayi adalah 8
dan 9. Setelah lahir, Lilia ditempatkan di perut Maria untuk kontak
kulit-ke-kulit dan membantu proses menyusu pertama. Setelah bonding awal, Lilia
dibawa ke ruang bayi untuk pemeriksaan lanjutan. Semuanya normal hingga
ditemukan bahwa Lilia belum buang air kecil selama lebih dari 6 jam. Dokter
neonatologi mencurigai masalah ginjal dan memutuskan merujuk Lilia ke rumah
sakit regional Level III untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Sebagai perawat, Anda memastikan
proses komunikasi berjalan baik antara penerjemah, dokter kandungan,
neonatolog, perawat, dan pekerja sosial. Saat Daniel menerjemahkan kabar
rujukan tersebut, Maria menangis dan Daniel tampak stres. Kondisi postpartum
Maria stabil, namun ia mengalami kecemasan karena kondisi bayi, pemisahan dini,
gangguan menyusui, dan hambatan bahasa.
Anda menilai bahwa stres yang
dialami Maria dapat memengaruhi proses ikatan dengan bayi, produksi ASI,
pemulihan fisik, dan kestabilan emosinya. Maria juga minim dukungan keluarga
dan tidak memiliki komunitas spiritual aktif meskipun ia beragama Kristen.
Teori caring Watson membantu Anda
merancang intervensi untuk mendukung kesehatan fisik, emosional, spiritual, dan
sosial Maria serta keluarganya.
Anda mengatur kesempatan bonding
sebelum bayi dirujuk, memanggil pendeta berbahasa Spanyol untuk dukungan
spiritual, meminta penerjemah untuk edukasi kesehatan, serta berkoordinasi
dengan pekerja sosial untuk membantu proses rujukan dan transportasi. Anda juga
memastikan Maria mendapatkan pompa ASI dan edukasi penggunaannya.
Hubungan terapeutik yang terbangun
membuat Maria dan Daniel merasa lebih tenang. Maria dapat beristirahat dan
kondisi postpartumnya stabil. Transportasi untuk kunjungan ke rumah sakit
rujukan juga sudah diatur, dan adik iparnya siap membantu menjaga anak-anak di
rumah.
APLIKASI DALAM ASUHAN KEPERAWATAN
Identitas Klien
·
Nama:
Tn. A
·
Usia:
56 tahun
·
Jenis
Kelamin: Laki-laki
·
Diagnosis
Medis: Stroke Non Hemoragik
·
Lama
Dirawat: Hari ke-3
· Status Psikososial: Tinggal bersama istri, pekerjaan buruh harian, tampak cemas dan merasa menjadi beban keluarga.
Keluhan Utama
Pasien mengatakan: “Saya takut tidak bisa jalan lagi… saya kasihan istri saya.”
Data Pengkajian
Data ObjektiF: Tekanan darah: 160/100 mmHg, Hemiparesis sinistra (kelemahan sisi kiri tubuh), Bicara sedikit terbata, Nafsu makan menurun, Skor kecemasan (HARS): sedang
Data Subjektif: pasien merasa malu, takut, sedih, dan kehilangan harapan, Merasa sulit tidur dan tidak percaya diri.
Masalah Keperawatan yang Relevan
Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan ketidakpastian prognosis
Gangguan mobilitas fisik
Harga diri rendah situasional.
Tujuan Keperawatan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam, diharapkan:
- Pasien
menunjukkan penurunan kecemasan.
- Pasien
mampu berpartisipasi dalam latihan mobilisasi sederhana.
- Pasien menunjukkan sikap positif terhadap proses penyembuhan.
Implementasi Berdasarkan 10 Carative Factors / Caritas
Process Jean Watson
|
Carative Watson |
Contoh Tindakan Keperawatan |
|
1. Humanistic-altruistic values |
Menyapa pasien dengan sopan, memberi sentuhan (misal
memegang tangan), menunjukkan empati. |
|
2. Faith-hope |
Memberikan motivasi bahwa banyak pasien stroke pulih
dengan latihan rutin dan dukungan keluarga. |
|
3. Sensitivity to self and others |
Perawat menyadari kondisi emosional pasien dan memberikan
waktu bagi pasien mengekspresikan perasaan tanpa interupsi. |
|
4. Helping-trusting relationship |
Membangun hubungan saling percaya melalui komunikasi
terapeutik, menjaga privasi, dan konsisten dalam jadwal perawatan. |
|
5. Expressing feelings |
Mengajak pasien berbicara tentang ketakutan, kesedihan,
dan harapannya. |
|
6. Problem-solving caring process |
Bersama pasien dan fisioterapis menyusun jadwal latihan
mobilisasi yang bertahap. |
|
7. Transpersonal teaching-learning |
Mengedukasi pasien dan keluarga tentang stroke, pentingnya
latihan, pola makan, dan dukungan spiritual. |
|
8. Supportive environment |
Mengatur kamar agar nyaman, pencahayaan cukup, memutar
musik relaksasi jika pasien menyukai. |
|
9. Basic needs assistance |
Membantu pasien makan, latihan ROM, dan membantu kebutuhan
kebersihan diri sambil mempromosikan kemandirian. |
|
10. Spiritual-existential care |
Mengajak pasien berdoa sesuai keyakinannya atau memanggil
tokoh agama jika diinginkan. |
Evaluasi
Setelah 3 hari intervensi:
Pasien tampak lebih tenang, mampu tidur 6 jam/malam
Pasien mengatakan: “Saya lebih semangat dan ingin latihan.”
Pasien mulai melakukan latihan ROM pasif dan aktif terbimbing
Nafsu makan meningkat
Hubungan terapeutik positif terjalin dengan perawat dan keluarga
Kesimpulan
Penerapan teori Caring Jean Watson
dalam asuhan keperawatan membantu memenuhi kebutuhan pasien secara holistik
(fisik, psikologis, sosial, dan spiritual). Melalui sikap caring, hubungan
terapeutik perawat-pasien meningkat sehingga berdampak pada motivasi, harapan,
penyembuhan, dan kualitas hidup pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Akbari, M., Ahmadi, F., Mohammadi, E., & M.
Fallahi-Khoshknab. (2022). A concept analysis of Watson’s nursing Caritas
process. BMC Nursing, 21(1), 142.
https://doi.org/https://doi.org/10.1186/s12912-022-00933-2
Ali,
W. G. M., Elsaid, N. M. A., & M. M. Elhabashy. (2021). Applying Jean
Watson’s theory of human caring in nursing practice: A systematic review. International
Journal of Nursing Studies Advances, 3, 100027.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.ijnsa.2021.100027
Chadwick,
L., & Hosseinzadeh, H. (2021). Caring science and nurse well-being: A
systematic review of the literature. Journal of Nursing Management, 29(5),
1020–1030. https://doi.org/https://doi.org/10.1111/jonm.13239
Hamed,
N. S., Ibrahim, H. A., & El-Gamil, M. (2020). Effect of applying Watson’s
theory of human caring on nurse–patient relationship and patients’
satisfaction. Journal of Nursing Education and Practice, 10(12),
22–30. https://doi.org/https://doi.org/10.5430/jnep.v10n12p22
J.
Watson. (2018). Unitary caring science: The philosophy and praxis of nursing.
University Press of Colorado.
K.
Sitzman, & J. Watson. (2019). Caring science, mindful practice:
Implementing Watson’s human caring theory (2nd ed.). Springer Publishing
Company.
Pajnkihar,
M., Watson, J., & J. Fawcett. (2023). Revisiting caring science theory for
global nursing practice. International Journal of Nursing Knowledge, 34(1),
6–15. https://doi.org/https://doi.org/10.1111/2047-3095.12391
Created by: Ns. Risyda Zakiyah Hanim, M.Kep., Sp. Kep., M.B